Memburu Senja di Pantai



Pada pukul lima sore. Senja tampak menawan, semburat warna merah di ufuk barat. Menandakan bahwa siang akan berganti malam, dan gelap pun akan datang. Aku sangat menikmati saat senja di tepian pantai. Dengan di iringi oleh lantunan musik indie yang begitu sopan masuk ke telingaku.

Saat ku lihat para nelayan yang sibuk mempersiapkan kapalnya untuk pergi berlayar, mengawasi jaringnya, mempersiapkan lampu petromaks serta perbekalannya. Atau saat melihat burung-burung camar berterbangan di bibir pantai untuk kembali ke sarangnya.

 Aku akan selalu melakukan itu, hanya tuk menghilangkan kepenatan karena rutinitas kuliah yang tak pernah ada habisnya. Ataupun kepenatan akan kehidupan memang sangat menegangkan, tak sadar beberapa kata kasar terucapkan. Sejenak merenungkan apa yg sudah kita lakukan? Terbaikah untuk menyesal? Atau melupakan untuk memulai sesuatu yg lebih apik? Lagi-lagi penat menjadi halangan. Bergeriang seakan tak mau hilang. Betapa nikmat melihat mereka yg bergelimang. Sedikit iri dan merasa hidup teramat malang. Bagiku pantai adalah obat mujarab, karena ku tau disana ada bisikan ombak bak memberikan nasihat.

Sejenak aku mencoba menikmati senja dengan cara lain dari biasanya. Biasanya aku hanya duduk di gubuk kecil yang berdiri menatap lepas kearah pantai, melihat para nelayan yang telah berlayar dan membawa begitu banyak ikan hasil tangkapannya. Tapi kali ini aku berjalan menyusuri tepian pantai. Sesekali ku ambil kulit kerang yang terlihat berbeda bentuknya dan ku bersihkan dari pasir yang menempel, sambil menikmati angin laut yang berhembus sepoi-sepoi serta melihat ombak yang menggulung ke tepian.

Aku menghampiri barisan perahu nelayan dan melihat mereka dari dekat, rasa kagumku pada para nelayan itu tiba-tiba saja muncul. Betapa tidak, rela rela mereka berlayar di tengah lautan pada malam hari untuk mendapatkan ikan yang mungkin tidak dapat dilakukan dengan risiko yang besar serta bahaya yang mengancam nyawa mereka sendiri. Dan mereka kembali ke daratan pada pagi hari, mereka tidak dapat beristirahat, tetapi mereka akan mengangkut hasil tangkapannya ketempat pelelangan ikan.

Semburat merah di ufuk barat mulai memudar, seiring dengan tenggelamnya mentari dari tepi pantai dan tidak ada lilin yang bisa menggantikannya. Aku mulai meninggalkan pantai, meninggalkan senja yang telah menghilang. Dan yang tertinggal hanya deburan ombak dan hembusan angin yang ditemani oleh taburan bintang di langit dan bulan yang mengintip malu dibalik awan.

Komentar

Posting Komentar